Dulu, traveling sering identic dengan itinerary padat, pagi di kota A, sore pindah ke kota B, besok pagi naik kereta lagi untuk pindah kota. Tapi sekarang banyak traveler yang mulai berpindah ke konsep slow travel–gaya liburan yang lebih santai, lebih mindful, dan gak bikin badan maupun mental ikut “marathon”.
Alih-alih mengejar sebanyak mungkin destinasi, slow travel justru fokus menikmati satu tempat lebih lama. Explore tempat-tempat yang justru jarang dijamah traveler lain, menikmati setiap detail dari satu kota, dan menumbuhkan sense of belonging dengan kota tersebut. Tren ini makin popular di kalangan solo traveler, pekerja remote, sampai wisatawan yang ingin liburan untuk melepas stress.
Slow travel adalah konsep traveling dengan ritme lebih pelan. Biasanya traveler memilih tinggal lebih lama di salah satu kota atau area dibanding berpindah-pindah tempat setiap hari.
Tujuannya bukan sekedar checklist destinasi terkenal, tapi benar-benar menikmati suasana lokal:
- Nongkrong di café kecil
- Belanja di pasar tradisional
- Jalan kaki tanpa tujuan
- Ngobrol dengan warga lokal
- Mencoba rutinitas sehari-hari di kota tersebut
- Menikmati perjalanan tanpa terburu-buru
Konsep ini terinspirasi dari gerakan slow living yang menekankan kualitas pengalaman dibanding kuantitas.
Kenapa slow travel lagi tren?
1. Banyak orang mulai capek dengan itinerary super padat
Traveling yang terlalu ambisius sering bikin liburan terasa seperti kerja tambahan. Baru sampai hotel sudah harus packing lagi untuk pindah kota besok pagi.
Itinerary yang padat membuat traveler sulit menikmati liburan mereka yang seharusnya direncanakan untuk melepas stress. Hari ini baru sampai, seharian harus mengejar destinasi-destinasi yang wajib dikunjungi karena besok sudah harus pindah ke kota lain. Semua serba terburu-buru waktu. Akhirnya banyak traveler sadar, terlalu banyak destinasi belum tentu bikin liburan lebih memorable.
2. Lebih hemat energi dan mental
Pindah kota terus-menerus berarti:
- Angkut koper berkali-kali
- Kejar trasnportasi
- Adaptasi hotel baru
- Kurang tidur
- Rentan burn out saat traveling
Dengan slow travel, ritme perjalanan jadi jauh lebih nyaman.
3. Bisa lebih mengenal budaya lokal
Kalau tinggal lebih lama di satu kota, pengalaman yang didapat biasanya lebih autentik.Misalnya, menemukan restoran lokal favorit, tahu jam terbaik menikmati suatu area, ikut festival kecil yang tidak terlalu turistik, atau mengenal kebiasaan warga sekitar
Itinerary yang padat membuat traveler sulit menikmati sebuah kota secara keseluruhan. Bahkan mereka sering melewatkan pengalaman unik yang seharusnya cuma bisa dinikmati di kota itu.
Beberapa kota memang lebih enak dinikmati secara santai dibanding diburu-buru dalam sehari. Ini adalah beberapa destinasi yang cocok untuk slow travel:
Jepang

Kota seperti Gifu cocok untuk slow travel karena banyak area tenang, kuil, café, dan bahkan bisa explore ke kota-kota di dekatnya untuk dinikmati secara perlahan.
Korea Selatan
Busan cocok untuk traveler yang ingin kombinasi kota dan laut tanpa suasana terlalu hectic seperti ibu kota.
China
Lijiang menjadi destinasi yang popular untuk traveler yang suka suasana historical drama, old town, dan ritme kota yang lebih santai
Thailand
Chiang Mai sering jadi favorit digital nomad dan solo traveler karena biaya hidup relative lebih ramah dan pace kota yang lebih tenang.
Tips Slow Travel Biar Liburan Tetap Nyaman
- Pilih lebih sedikit kota
Dari pada 6 kota dalam 7 hari, coba fokus ke 1 sampai 2 kota saja dalam 1 negara dan tinggal lebih lama. Biasanya pengalaman justru terasa lebih dalam
- Jangan isi itinerary terlalu penuh
Sisakan waktu kosong untuk spontan masuk toko lucu, duduk di taman, berjalan-jalan tanpa arah, istirahat tanpa rasa bersalah.
- Gunakan transportasi yang praktis
Karena stay lebih lama, koneksi internet stabil jadi penting untuk buka maps, pesan transportasi, cari rekomendasi lokal, upload konten perjalanan, atau bahkan kerja secara remote. Menggunakan eSIM bisa membantu traveler tetap online tanpa perlu repot cari dan ganti kartu fisik di tiap negara.
Traveling tidak selalu harus penuh checklist destinasi. Kadang, pengalaman paling berkesan justru datang saat kita punya waktu lebih untuk benar-benar menikmati suatu tempat tanpa diburu-buru waktu.
Slow travel mengajarkan bahwa liburan bukan soal seberapa banyak destinasi kota yang dikunjungi, tapi seberapa dalam pengenalan kamu dengan kota yang dikunjungi.